jump to navigation

TAHLILAN Februari 25, 2008

Posted by sudiyanto in Islamic, Laen-laen, Pendidikan.
trackback

Ketika mencari-cari dalil tentang “Amalan Harian” yang di anjurkan oleh Ustdz. Yusuf Mansur (wisatahati.com) saya menemukan komentar tentang tahlil di sebuah blog-nya orgawan, yaitu :

“Artikel yang bagus. Saya tertarik dengan kalimat yang terakhir : “Yang dilarang itu adalah jika kita mewajibkan peringatan 3, 7, 40 hari dst sebagai keharusan,.. karena tidak ada dalil yg mewajibkannya.”

Terjadi kesalahkaprahan di masyarakat kita (setidaknya yang saya tahu di Jawa) yang mewajibkan peringatan tersebut sebagai hukum tak tertulis. Dan satu hal lagi, masyarakat yang tidak mampu memaksakan diri mengadakan peringatan itu dengan mengadakan jamuan-jamuan sedangkan yang mampu menyelenggarakannya secara berlebihan. Padahal yang penting kan dzikirnya, bukan hidangannya.

–> Setuju mas. Jika ada yg menganggap tradisi ini (3, 7, 40 hr dst) wajib, itulah yg perlu diluruskan. Demikian juga dalam hal memaksakan diri. Tetapi kita tidak bisa memvonis sesuatu (tradisi) sebagai bid’ah (sesat) hanya berdasar anggapan (salah-kaprah) masyarakat. Pegangan dalam beragama (untuk hal2 yg baru) di zaman ini adalah fatwa ulama. Setahu kami, tidak ada seorang ulama pun yg mengatakan itu wajib.

Adalah bid’ah (dlolalah) .. mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Demikian juga, bid’ah (dlolalah) .. mengharamkan sesuatu (kegiatan) yang tidak ada hujah larangannya di dalam syariat. Ini adalah membuat syariat baru. Sebagaimana keterangan syeikh Muhammad Alwi Al Maliki (ttg bid’ah yg sesat/dlolalah) sbb:

… dalam konteks (bid’ah) ini adalah adanya penambahan dalam urusan agama supaya menjadi urusan agama, dan penambahan dalam masalah syariat supaya menjadi suatu bentuk syariat, sehingga menjadi suatu syariat yang diikuti – oleh umat Islam– dan disandarkan pada pemilik syariat (Nabi Muhammad Saw)

Maka, berfatwa mengatakan tradisi ini (peringatan kematian 3, 7, 40, 100 hr, dst) sebagai kewajiban dlm agama adalah bid’ah dlolalah.

Demikian juga, berfatwa dengan mengharamkan (membid’ah sesatkan) tradisi ini adalah bid’ah (dlolalah) itu sendiri, karena tidak ada dalil yang menyebabkan haramnya. Hal ini sama saja membuat (menambah) syariat baru dalam agama.

Wallahu a’lam. (oleh : sigis)”

Yang paling menarik adalah mengenai peringatan kematian seseorang ke 3, 7, 40 hari dst. Dlam masyarakat kita terutama masyarakat jawa sangat menjunjung bahkan ada yang mewajibkan peringatan tersebut. Padahal peringatan terebutmerupakan peringatan yang dilaksnakan oleh orng atau masyarakat yang beragama non-Islam. Untuk memberikan penerangan kepada masyarakat kita diperlukan waktu dan cara yang tidak mudah. Karena bila salah dalam penyampaian bisa menimbulkan perpecahan.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: